livescoreasianbookie – Nama Jadon Sancho pernah dianggap sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Eropa. Bersinar bersama Borussia Dortmund, menjadi bintang di Bundesliga, dan kemudian dibeli Manchester United dengan harga fantastis — lebih dari £70 juta. Namun, dalam waktu kurang dari tiga tahun, kariernya berada di tepi jurang. Pinjaman ke Chelsea, yang semula dianggap sebagai “pelampiasan” untuk memulihkan performanya, justru menjadi tanda tanya besar. Kini, pertanyaan utama yang menghantui: apakah karier Jadon Sancho masih bisa diselamatkan?
Mari kita ulas lebih dalam perjalanan naik-turun pemain asal Inggris ini, dan mengapa ia kini berada di persimpangan jalan yang menentukan masa depan karier profesionalnya.
Kilau Awal di Jerman: Sancho, Sang Bintang Bundesliga
Sancho mulai mencuri perhatian ketika bergabung dengan Borussia Dortmund dari akademi Manchester City pada tahun 2017. Di usia remaja, ia langsung tampil eksplosif, menunjukkan kecepatan, teknik, dan kreativitas yang menghidupkan sisi sayap Dortmund.
Statistiknya di Jerman mengesankan:
- 137 penampilan untuk Dortmund
- 50 gol dan 64 assist
- Rata-rata kontribusi gol setiap 1,5 pertandingan
Sancho menjadi mimpi buruk bagi bek lawan dan dianggap sebagai “next big thing” dalam sepak bola Inggris. Ia bahkan mencatat rekor sebagai pemain termuda yang mencetak 25 assist di Bundesliga.
Transfer Besar ke Manchester United: Harapan Tinggi, Realita Pahit
Pada musim panas 2021, Manchester United akhirnya berhasil mendapatkan Sancho setelah negosiasi panjang dengan Dortmund. Diharapkan menjadi solusi di sektor kanan serangan Setan Merah, publik berharap bisa membentuk trio mematikan bersama Bruno Fernandes dan Cristiano Ronaldo.
Namun kenyataan di lapangan sangat berbeda:
- Musim pertama (2021/22): 38 penampilan, hanya 5 gol
- Musim kedua (2022/23): performa menurun, kehilangan tempat di tim inti
- Konflik internal dengan pelatih Erik ten Hag memperburuk situasi
Sancho perlahan tersingkir. Bukan hanya karena statistik yang mengecewakan, tapi juga kurangnya etos kerja, masalah kedisiplinan, dan tudingan kurang dewasa secara profesional. Ia bahkan sempat dibekukan dari tim utama karena menolak meminta maaf kepada sang pelatih.
Pinjaman ke Chelsea: Peluang Kedua yang Gagal Dimanfaatkan
Ketika Sancho akhirnya dipinjamkan ke Chelsea pada awal musim 2024/25, banyak yang menyambutnya sebagai peluang baru. Berita Bola Chelsea memang sedang dalam masa transisi dan doyan memberi kesempatan kepada pemain muda yang butuh “restart”.
Namun sayangnya, Sancho gagal total:
- Hanya tampil dalam 13 pertandingan di semua kompetisi
- Tanpa gol, tanpa assist
- Cedera ringan, performa tak konsisten, dan kembali terpinggirkan dari pilihan utama
Chelsea yang semula mempertimbangkan opsi pembelian permanen senilai £35 juta akhirnya mengurungkan niat. Mauricio Pochettino kabarnya kecewa karena tidak menunjukkan kemauan untuk beradaptasi secara taktik dan mental.
Kini, Sancho harus kembali ke Manchester United, di mana hubungannya dengan Ten Hag sudah nyaris tak bisa diperbaiki — dan di saat yang sama, tak ada klub besar lain yang benar-benar tertarik padanya.
Baca Juga :
- Cair! Klub Tajir Ini Siap Beli Jadon Sancho dari Manchester United
- Rayan Ait Nouri Tinggalkan Wolves untuk City!
Apa yang Salah dengan Jadon Sancho?
Kasusnya menjadi studi menarik tentang bagaimana talenta luar biasa bisa runtuh karena faktor non-teknis. Mari kita telaah beberapa kemungkinan penyebab utama:
-
Mentalitas dan Kedisiplinan
Banyak laporan dari dalam klub yang menyebut Sancho tidak memiliki komitmen dan etos kerja seperti yang diharapkan dari pemain profesional top. Ia kerap telat latihan, dan disebut tidak responsif terhadap masukan pelatih.
Ketika membela Dortmund, sistem yang lebih longgar dan lingkungan yang lebih suportif membantu menutupi kekurangan ini. Namun di Premier League, dengan tekanan lebih tinggi, kelemahan itu menjadi sangat mencolok.
-
Tidak Cocok dengan Sistem
Baik di Manchester United maupun Chelsea, Sancho tampak kesulitan menemukan peran yang sesuai. Ia bukan tipe winger yang eksplosif secara fisik seperti Marcus Rashford, dan juga bukan gelandang kreatif murni.
Pelatih-pelatih di Inggris tampaknya tidak melihat posisi natural untuknya dalam skema mereka. Akibatnya, Sancho sering dimainkan di luar posisi terbaiknya, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak produktif.
-
Tekanan Media dan Harapan Publik
Ekspektasi terhadap Sancho sangat besar. Label “bintang masa depan Inggris”, nilai transfer yang mahal, dan ekspektasi fans klub raksasa membuat ia selalu berada di bawah sorotan.
Sebagai pemain muda, tidak semua mampu bertahan di bawah tekanan besar seperti itu. Terlihat bahwa lebih nyaman bermain di lingkungan yang lebih tenang seperti Bundesliga.
Pilihan Sancho ke Depan: Kembali ke Dortmund atau Petualangan Baru?
Kini, Sancho harus membuat keputusan penting. Kariernya masih di usia muda — 25 tahun — tetapi waktu terus berjalan. Jika tidak segera memperbaiki arah, ia bisa menjadi contoh klasik pemain berbakat yang gagal menunaikan potensinya.
-
Opsi 1: Kembali ke Borussia Dortmund
Dortmund masih membuka pintu. Klub Jerman itu menyatakan bersedia merekrut Sancho kembali — namun dengan syarat gaji lebih rendah dan struktur transfer yang menguntungkan.
Kembali ke tempat di mana ia merasa nyaman bisa menjadi solusi terbaik. Di Bundesliga, ritme permainan lebih sesuai dengan gaya Sancho, dan dukungan fans bisa mengembalikan kepercayaan dirinya.
Namun, apakah Sancho siap “turun level” dari klub Premier League ke Bundesliga?
-
Opsi 2: Pindah ke Liga Lain (Arab Saudi, MLS, atau Serie A)
Beberapa klub dari Liga Arab Saudi dan MLS dikabarkan tertarik. Dari sisi finansial, tentu menggiurkan. Tapi dari sisi karier, itu bisa dilihat sebagai “jalan pintas keluar” dan sinyal bahwa Sancho sudah menyerah bersaing di level tertinggi.
Alternatif lain adalah mencoba Serie A atau Ligue 1, liga yang tak sekeras Premier League namun tetap kompetitif.
-
Opsi 3: Bertahan dan Bertarung di Manchester United
Jika Ten Hag dipecat (yang bukan tidak mungkin), Sancho mungkin melihat celah untuk bertahan dan membuktikan diri di bawah pelatih baru. Tapi ini opsi penuh risiko. Ia sudah kehilangan kepercayaan fans dan manajemen klub.
Butuh perubahan sikap total dan komitmen yang nyata untuk mengubah persepsi tersebut.
Apakah Masih Ada Harapan untuk Sancho?
Jawabannya: ya, tapi waktunya sangat terbatas.
Jika ia mau:
- Menurunkan ego
- Menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelatih
- Fokus memperbaiki aspek mental dan fisik
- Mengambil keputusan yang realistis, bukan emosional
Maka kariernya bisa diselamatkan. Potensi teknis masih ada — kita sudah pernah melihatnya bersinar. Namun jika kembali jatuh ke pola lama, maka ia bisa menjadi salah satu transfer flop terbesar dekade ini.
Persimpangan Jalan yang Menentukan Masa Depan
Jadon Sancho adalah contoh bahwa talenta besar tidak pernah cukup tanpa disiplin, mental kuat, dan adaptasi. Setelah gagal di Manchester United dan gagal permanen di Chelsea, ia kini berada di titik krusial.
Setiap keputusan yang ia ambil dalam 12 bulan ke depan akan menentukan: apakah ia akan bangkit dan memenuhi takdirnya sebagai bintang, atau akan masuk buku sejarah sebagai “what could have been”.
Satu hal yang pasti: Sancho tidak bisa terus hidup di bawah bayang-bayang masa lalu di Dortmund. Ia harus membangun babak baru — dan itu harus dimulai sekarang.