livescoreasianbookie – Pertandingan antara Timnas Jepang vs Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia menjadi sorotan besar publik sepak bola Asia. Laga yang digelar di Nissan Stadium, Yokohama, tersebut berakhir dengan skor mencolok 5-0 untuk kemenangan Jepang. Kekalahan telak ini menyisakan evaluasi besar bagi skuad Garuda, namun juga mengundang pertanyaan—mengapa Jepang tampil sedemikian agresif, bahkan ketika mereka sudah memastikan diri lolos ke babak selanjutnya? Jawaban tersebut akhirnya datang langsung dari kapten Jepang, Wataru Endo, yang buka suara usai pertandingan. Gelandang bertahan milik Liverpool itu memberikan penjelasan blak-blakan soal motivasi besar Jepang untuk “mengamuk” di laga melawan Timnas Indonesia. Pernyataannya menjadi bahan pembicaraan dan mengungkap filosofi permainan serta mentalitas sepak bola Negeri Matahari Terbit.
Dominasi Jepang, Kekalahan Telak untuk Timnas Indonesia
Sejak menit awal, Jepang tampil mendominasi. Gol-gol datang dari berbagai lini: lini depan tajam, lini tengah kreatif, dan lini belakang solid. Indonesia nyaris tak diberi ruang mengembangkan permainan. Kualitas individu dan kolektivitas Jepang benar-benar membuat skuad Garuda kerepotan.
Para pemain muda Timnas Indonesia seperti Justin Hubner, Rafael Struick, hingga Marselino Ferdinan terlihat kewalahan menghadapi intensitas tinggi dan pergerakan cepat dari Jepang. Bahkan, permainan pressing Jepang berlangsung nyaris sepanjang 90 menit tanpa ampun, seolah mereka tengah memainkan laga final, bukan sekadar pertandingan fase grup.
Wataru Endo Bicara: “Kami Tidak Mau Dipermalukan di Rumah”
Dalam sesi wawancara seusai laga, Wataru Endo memberikan komentar yang cukup mengejutkan dan menunjukkan sisi emosional dari kemenangan telak itu. Ia mengatakan:
“Kami tidak ingin kalah atau bermain setengah hati di kandang sendiri. Melawan Timnas Indonesia, kami tahu mereka berkembang pesat. Tapi kami ingin menunjukkan level kami, kami tidak ingin dipermalukan di rumah.”
Komentar ini menjelaskan dua hal penting: rasa tanggung jawab sebagai tuan rumah dan kesadaran akan perkembangan tim lawan. Endo tidak memandang remeh Timnas Indonesia, justru mengakui bahwa tim asuhan Shin Tae-yong telah menunjukkan perkembangan signifikan. Namun, justru karena itulah Jepang tampil habis-habisan—mereka tak ingin momentum mengganggu dominasi mereka di Asia.
“Kami Terluka Setelah Kalah dari Korea Selatan”
Lebih lanjut, Wataru Endo juga menyinggung kekalahan Jepang dari Korea Selatan di Piala Asia 2023 lalu sebagai pemicu semangat mereka di kualifikasi kali ini.
“Kekalahan dari Korea Selatan sangat menyakitkan bagi kami. Sejak saat itu, kami bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun meremehkan kami. Berita Bola Kami ingin membangun kembali reputasi kami sebagai tim terbaik di Asia,” tegasnya.
Kekalahan dari rival regional utama memang menjadi cambuk bagi Jepang. Mereka menyadari bahwa dominasi di Asia tidak bisa dipertahankan hanya dengan reputasi. Oleh karena itu, setiap pertandingan—termasuk melawan Timnas Indonesia—menjadi kesempatan untuk memulihkan harga diri.
Baca Juga :
- Jadon Sancho: Kariernya Masih Bisa Diselamatkan?
- Clement Lenglet Resmi Putus Kontrak dengan Barcelona
Timnas Indonesia Jadi Korban Semangat Restorasi Jepang
Sayangnya, dalam proses “restorasi reputasi” tersebut, Timnas Indonesia menjadi korban. Jepang datang dengan misi menyapu bersih semua pertandingan dan mencetak gol sebanyak mungkin. Timnas Indonesia, yang masih dalam proses membangun tim dan mengandalkan banyak pemain muda naturalisasi, tidak kuasa menahan gempuran.
Namun, bagi Jepang, ini bukan soal mencetak banyak gol atau mempermalukan lawan. Menurut Endo, setiap laga menjadi bagian dari program besar untuk menyiapkan generasi berikutnya dan membangun mentalitas juara.
“Kami ingin generasi muda Jepang terbiasa menang. Kami ingin mereka tahu bahwa mengenakan jersey ini berarti memberikan 100 persen, siapa pun lawannya.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa tim Jepang menganggap setiap pertandingan sebagai proses pendidikan mental bagi skuad mereka sendiri. Mereka tidak bisa “main-main” bahkan di laga yang tampaknya tak menentukan.
Analisis Taktikal: Keunggulan Jepang di Segala Aspek
Dari sisi taktik, Jepang benar-benar tampil klinis. Mereka menerapkan high pressing sejak menit awal, memaksa kehilangan bola di area sendiri. Lini tengah dikomandoi Wataru Endo dan Ao Tanaka yang mengatur ritme dan mendominasi penguasaan bola.
Bek-bek Jepang juga tidak segan naik membantu serangan, sementara pemain sayap seperti Kaoru Mitoma atau Takefusa Kubo terus menyisir sisi lapangan dan menciptakan peluang. Timnas Indonesia pun tak punya ruang untuk melakukan transisi cepat, karena Jepang selalu berada satu langkah lebih cepat.
Menariknya, Jepang tidak hanya mengandalkan kecepatan atau teknik, tapi juga kecerdasan taktis dan pengalaman. Perbedaan level ini sangat kentara di sepanjang laga.
Apa Makna Kemenangan Ini bagi Jepang?
Kemenangan atas Timnas Indonesia mempertegas posisi Jepang sebagai raja sepak bola Asia saat ini, setidaknya dari sisi konsistensi dan kedalaman skuad. Dengan generasi muda yang mulai matang dan pemain-pemain top yang tersebar di liga-liga Eropa, Jepang tidak hanya membidik dominasi regional, tapi juga mimpi lolos jauh di Piala Dunia 2026 mendatang.
Pertandingan melawan Timnas Indonesia menjadi salah satu bentuk “latihan serius” untuk menghadapi lawan yang lebih kuat. Dalam kalender FIFA yang padat, setiap pertandingan dimanfaatkan maksimal, dan setiap kemenangan menjadi bagian dari membangun kepercayaan diri tim secara keseluruhan.
Dampak bagi Timnas Indonesia: Pahit Tapi Realistis
Bagi Timnas Indonesia, kekalahan ini menyakitkan, tapi juga pembelajaran penting. Shin Tae-yong dan para pemain muda menghadapi tim terbaik Asia di markas mereka sendiri, dalam atmosfer penuh tekanan. Ini bukan pengalaman biasa.
Dari hasil ini, Timnas Indonesia bisa belajar:
- Level tertinggi Asia masih jauh — meski berkembang pesat, masih banyak aspek yang perlu ditingkatkan, terutama soal fisik, mental, dan taktik.
- Pentingnya pengalaman internasional — menghadapi tim seperti Jepang membantu pemain memahami standar global.
- Perlu lebih banyak pemain di Eropa — Jepang punya hampir seluruh skuad yang bermain di liga top, sementara Timnas Indonesia masih sangat bergantung pada pemain lokal.
STY sendiri menyatakan dalam wawancara bahwa ia tidak kecewa dengan semangat pemain, tetapi mengakui bahwa “perbedaan level sangat terasa.”
Reaksi Publik dan Media Jepang
Menariknya, media Jepang justru mengapresiasi Timnas Indonesia meski kalah telak. Surat kabar olahraga seperti Nikkan Sports dan Sankei Sports menyebut bahwa “Indonesia tampil penuh semangat, namun tak mampu menahan arus tsunami Jepang.”
Komentator TV Jepang juga menyoroti beberapa pemain Indonesia yang menunjukkan potensi, seperti Ivar Jenner dan Nathan Tjoe-A-On, serta mengingatkan bahwa Indonesia bisa menjadi kekuatan Asia Tenggara di masa depan jika terus berkembang.
Bukan Dendam, Tapi Mentalitas
Apa yang dilakukan Jepang saat melawan Indonesia bukanlah bentuk pembalasan atau penghinaan, tapi cermin dari mentalitas profesionalisme tingkat tinggi. Dalam pandangan Wataru Endo dan rekan-rekannya, setiap pertandingan adalah kesempatan membuktikan kualitas dan melatih mental juara.
Jepang tidak menganggap remeh siapa pun, dan justru karena itulah mereka tampil all-out. Timnas Indonesia, meski menjadi korban dari “amukan” Jepang, mendapatkan pengalaman berharga dan peta jalan jelas tentang seberapa jauh mereka harus berkembang.
Wataru Endo menutup komentarnya dengan kalimat singkat namun mendalam:
“Kami tidak bermain untuk hari ini. Kami bermain untuk masa depan sepak bola Jepang.”
Dan mungkin, pelajaran yang sama juga berlaku untuk Indonesia.