livescoreasianbookie – Dalam dunia sepak bola, tak jarang seorang pelatih asing dipercaya untuk menangani tim nasional suatu negara demi mencapai target ambisius. Tapi ketika nama Thomas Tuchel, mantan pelatih PSG, Chelsea, dan Bayern Munich, diumumkan sebagai pelatih baru Timnas Inggris, publik terbelah. Ada yang menyambut dengan optimisme tinggi, namun tak sedikit pula yang meragukan langkah ini. Apalagi, misi yang diemban Tuchel bukan main-main: menyelamatkan Timnas Inggris dalam 14 laga tersisa menuju Piala Dunia 2026.
Menggantikan Gareth Southgate yang mundur setelah gagal membawa Inggris juara Euro 2024, Tuchel dihadapkan pada situasi genting: performa inkonsisten, ruang ganti yang tidak solid, serta tekanan tinggi dari publik dan media. Berikut adalah analisis mendalam tentang tantangan, peluang, dan bagaimana Tuchel bisa mengubah nasib The Three Lions dalam waktu yang sangat terbatas.
Mengapa Thomas Tuchel?
Pemilihan Tuchel sebagai pelatih bukan tanpa alasan. Meski ia belum pernah menangani tim nasional sebelumnya, rekam jejaknya di level klub cukup mentereng. Ia dikenal sebagai pelatih yang detail, taktis, dan mampu memaksimalkan potensi pemain.
Saat membawa Chelsea juara Liga Champions 2021, ia mengubah tim yang tak konsisten menjadi mesin kemenangan hanya dalam waktu beberapa bulan. Inilah yang menjadi harapan besar FA: bahwa Tuchel bisa memberi efek instan serupa pada skuad Inggris.
Namun, perlu dicatat, melatih tim nasional berbeda jauh dengan klub. Di timnas, waktu persiapan terbatas, variasi lawan lebih beragam, dan tekanan dari media serta publik bisa sangat ekstrem—terlebih di negara seperti Inggris, yang sepak bolanya begitu sakral.
14 Laga Menuju Piala Dunia: Jalan Terjal yang Harus Dilalui
Tuchel tak datang untuk memulai dari nol. Ia mewarisi proyek yang sudah separuh jalan. Inggris berada di posisi ketiga grup kualifikasi zona UEFA setelah hasil buruk di paruh pertama. Berita Bola Dengan hanya 14 pertandingan tersisa, termasuk dua pertandingan playoff potensial, kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
Berikut adalah beberapa laga penting yang akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Tuchel:
- Inggris vs Italia (Kualifikasi) – Laga kandang melawan juara bertahan Euro ini bisa jadi titik balik psikologis.
- Jerman vs Inggris – Selain rivalitas klasik, ini akan menjadi pertarungan emosional bagi Tuchel melawan tanah kelahirannya.
- Playoff Potensial – Jika gagal mengunci posisi dua besar grup, Inggris harus menghadapi dua laga hidup-mati yang sangat berisiko.
Tak hanya sekadar menang, Tuchel juga harus memperbaiki gaya bermain dan mental juara yang selama ini kerap absen di pertandingan-pertandingan penting.
Baca Juga :
- Kiper Baru Barcelona Picu Konflik: Ter Stegen Marah
- Tottenham Pecahkan Rekor Klub Demi Gaet Thomas Frank
Tantangan Internal: Ego, Formasi, dan Media Inggris
-
Ego Pemain Bintang
Salah satu kritik terhadap era Southgate adalah terlalu loyal terhadap nama-nama besar meskipun performa mereka menurun. Tuchel diharapkan membawa pendekatan yang lebih tegas dan meritokratis. Tapi ini bisa memicu konflik, terutama dengan pemain seperti Harry Maguire, Raheem Sterling, atau bahkan kapten Harry Kane, jika mereka tidak sesuai sistem Tuchel.
-
Sistem Bermain
Tuchel dikenal fleksibel dalam taktik, tapi sering menggunakan formasi 3-4-2-1 atau 3-5-2. Ini bisa menjadi masalah, mengingat mayoritas pemain Inggris terbiasa bermain dengan 4-3-3 di klub masing-masing. Ia harus bisa menyeimbangkan idealisme taktik dengan realita sumber daya pemain yang tersedia.
-
Tekanan Media dan Fans
Media Inggris dikenal kejam terhadap pelatih asing—lebih-lebih jika hasil awal tak memuaskan. Tuchel harus mampu meredam tekanan ini sambil menjaga hubungan yang sehat dengan pemain dan publik. Salah langkah sedikit saja bisa menimbulkan perpecahan internal.
Modal Positif: Skuad Muda dan Dinamis
Meski banyak tantangan, Tuchel juga mewarisi salah satu generasi emas Inggris terbaik dalam dua dekade terakhir. Pemain-pemain seperti:
- Jude Bellingham (Real Madrid)
- Bukayo Saka (Arsenal)
- Phil Foden (Man City)
- Declan Rice (Arsenal)
- Cole Palmer (Chelsea)
adalah talenta yang tidak hanya punya teknik tinggi, tapi juga sudah terbiasa bermain di level tertinggi. Mereka bisa menjadi fondasi utama dalam membangun “Timnas Inggris ala Tuchel”.
Keberadaan pemain-pemain yang pernah bekerja dengannya, seperti Ben Chilwell dan Reece James, bisa membantu proses adaptasi taktik. Jika chemistry berhasil dibangun, Tuchel punya peluang besar membawa Inggris ke level permainan yang lebih taktis dan disiplin.
Proyeksi Taktikal: Bagaimana Tuchel Akan Bermain?
Jika melihat sejarah taktik Tuchel, berikut adalah kemungkinan pendekatan yang akan ia gunakan:
- Formasi dasar: 3-4-2-1
- Kunci permainan: serangan balik cepat, pressing tinggi, kontrol lini tengah
Distribusi peran:
- Wingback seperti Walker dan Shaw atau James akan jadi kunci lebar permainan.
- Dua gelandang tengah (Rice & Bellingham) akan mengatur tempo dan transisi.
- Dua playmaker (Foden & Saka) bermain di belakang striker tunggal, kemungkinan Kane atau Watkins.
Tuchel tidak hanya berfokus pada serangan, tapi juga memperkuat organisasi pertahanan. Inggris sering kalah di momen krusial karena kelengahan di lini belakang—hal yang bisa diperbaiki dengan pendekatan struktural ala Tuchel.
Harapan vs Realita: Apa yang Bisa Dicapai?
Realistisnya, target utama Tuchel saat ini bukan menjuarai Piala Dunia, melainkan lolos terlebih dahulu. Namun, jika ia mampu membawa Inggris ke turnamen dengan gaya main yang meyakinkan dan moral tim yang tinggi, maka impian untuk juara bukanlah angan belaka.
Dalam sejarah, banyak tim yang tampil biasa saja di kualifikasi tapi meledak di turnamen utama. Dengan pengalaman Tuchel dalam turnamen knock-out dan kedisiplinan taktisnya, Inggris bisa menjadi kuda hitam berbahaya.
Namun semua ini bergantung pada dua hal:
- Seberapa cepat para pemain memahami dan menerapkan filosofi Tuchel.
- Seberapa besar dukungan dari federasi dan publik selama proses transisi.
Jalan Terjal, Tapi Bukan Mustahil
Thomas Tuchel menghadapi ujian terberat dalam kariernya. Ia datang bukan hanya sebagai pelatih, tapi juga sebagai penyelamat yang diharapkan bisa membawa Inggris kembali ke jalur kejayaan dalam waktu yang sangat singkat.
Dengan hanya 14 laga tersisa menuju Piala Dunia 2026, setiap keputusan, setiap pergantian pemain, setiap hasil pertandingan akan dinilai ketat. Tapi jika ada satu pelatih yang bisa membuat keajaiban dalam tekanan tinggi, Tuchel adalah salah satu nama paling layak.
Kini, tinggal menunggu waktu: apakah proyek ini akan menjadi kisah sukses yang dikenang bertahun-tahun, atau sekadar eksperimen berisiko yang berakhir prematur?
Yang jelas, Inggris kini berada di persimpangan jalan. Dan Thomas —dengan semua kelebihan dan kontroversinya—adalah orang yang memegang kemudi.